Sudah lama rasanya tidak mengendarai kendaraan ke kantor. Sepulang dari tugas luar kota selama hampir kurang lebih 4 minggu, rasanya perjalanan Depok ke Jakarta kok makin lama ya? padahal saya sudah menggunakan moda transportasi super gesit lho...hehehe yaitu motor. bagaimana dengan pengguna mobil pribadi ya? saya rasa mereka harus berangkat lebih pagi lagi tuh bisa jadi habis sholat subuh sudah langsung cauww..wadeeehhhhh. Gak sempat dengar celoteh anak-anaknya dong??
Rumah saya di daerah Beji Depok dan tempat kerja di daerah Pulomas Jakarta Timur. Biasanya perjalanan ditempuh sekitar 75 menit tapi kok sekarang minimal 90 menit sampai di kantor malah pernah sampai 120 menit!. Wahhh, ada yang aneh nih dengan Jakarta!
Oya, sebenarnya waktu yang ditempuh tersebut sudah termasuk waktu antar anak saya ke sekolah ya, di daerah Ciganjur. Biasanya rute yang saya tempuh yaitu Beji-Kukusan-Ciganjur-Stasiun LA-Condet-Pulomas. Namun kadangkala saya juga menggunakan alternatif lain. Ahhh sekalian saja deh saya infokan jalur alternatif dari Beji Depok ke Pulomas. Semoga bisa jadi referensi. hehehehe:
- Beji-Kukusan-Tugu-Jl. Moh Kahfi 2-Stasiun LA-Condet-Pulomas
- Beji-Kukusan-Tugu-Jl. Moh Kahfi 2-Stasiun LA-PsMinggu-Bakin-Asem Baris-By A Yani-Pulomas
- Beji-Hankam Cijantung-Condet-Pulomas
Nahhhhh jalur favorit saya sekarang adalah alternatif 3, jalurnya hijau, dan damai sentosa walaupun di daerah Cijantung saya harus mengaktifkan mode 'Stop and Go' pada Honda BeAT saya. Maksudnya mode akselerasi-rem-akselerasi lagi, karena banyak polisi tidurnya Broo..hehehehe. Tapi yang pasti jalurnya hijau banget dan membuat damai di hati. Pertama saya melewati jalur hijau kampus UI nan sejuk lalu memasuki jalur hijau CIlangkap -selain banyak hijau pohon, disana juga banyak seragam hijau TNI! hehehehehe. Pokoknya top-lah aksesnya dan relatif cepat dibanding jalur yang lain.
Uuupss, kita kembali ke masalah macetnya Jakarta. Menurut saya yang membuat akhir-akhir ini akses ke Jakarta makin macet disebabkan oleh beberapa hal diantaranya:
- Mulai diterapkannya denda bagi pengguna mobil dan motor sebesar 1 juta dan 500 ribu yang menggunakan jalur busway. Para pengguna kendaraan bermotor mulai enggan menggunakan jalur busway dan sepertinya mereka belum juga mau pindah menggunakan moda TransJakarta sehingga jalanan non busway makin penuh sesak. Itu jelas, karena contohnya saya, hehehehe.
- Banyak galian pelebaran dan pendalaman selokan. Nah ini, yang biasa terjadi dibulan November dan Desember. Musim hujan dan musim tutup tahun buku merupakan pasangan yang serasi. hehehehe. Antara pekerjaan antisipasi banjir dan pekerjaan proyek akhir tahun pemerintah.
Tapi itu sih pendapat orang awam seperti saya, bikers mania! hehehe. Nah kalau pendapat pakar apa sih sebenarnya? Menurut pangamat kebijakan publik Andrinof Chaniago berikut penyebab kemacetan Jakarta.
Pertama, ruas jalan jauh di bawah kebutuhan normal yang seharusnya 20 persen dari total luas kota. Saat ini, lahan jalan Jakarta hanya 6,2 persen saja dari total lahan.
Kedua, moda angkutan umum belum sesuai dengan kebutuhan di kota besar. Menurut Andrinof, angkutan umum utama di Jakarta harusnya berupa bus dan kereta yang bisa mengangkut penumpang dalam jumlah besar.
"Namun, yang terjadi saat ini Jakarta masih dilayani 16 ribu angkot. Jumlah angkot harus diciutkan drastis," kata dia saat memberikankultwit di akun Twitter-nya @andrinof_a_ch.
Penyebab ketiga yaitu minimnya jembatan penyeberangan orang atau terowongan penyeberangan orang. Sehingga orang kerap kali menyeberang beramai-ramai saat arus lalu lintas sedang tinggi. Ini tentu menghambat laju kendaraan.
Keempat, karena kebijakan perumahan perkotaan yang salah. Rumah susun di Jakarta jumlahnya amat kecil. Akibatnya, orang menyebar ke daerah pinggir. "Penyebaran rumah ke pinggir membuat orang lama dan banyak berada di jalan," ujar Andrinof.
Penyebab kelima karena banyaknya persimpangan jalan yang belum memiliki bangunan fly over maupun underpass. Keenam, angka urbanisasi dan pertumbuhan penduduk di pinggir Jakarta amat tinggi. Jumlahnya d\\i atas 4,5 persen per tahun. Sementara, mayoritas dari mereka bekerja di Jakarta.
Penyeban ketujuh, yaitu karena banyaknya titik bottleneck, seperti di pintu-pintu masuk jalan tol. Sementara penyebab nomor delapan yaitu karena kurangnya angkutan massal seperti bus dan kereta.
Penyebab terakhir, yaitu karena buruknya tata ruang dan kesalahan pemberian ijin bangunan seperti mall dan ruko. "Di luar sembilan penyebab tersebut, ada dua masalah fundamental di masa lalu, yaitu kepemimpinan birokrasi dan tata kelola anggaran," ujar pengamat dari Universitas Indonesia itu
Demikian saya kutip dari Republika.19 Desember 2013
Setuju banget dengan pendapat Pak Andrinof, memang itu yang harus fokus diselesaikan oleh pak JoHok (Jokowi - Ahok maksudnya, hehehe). Kalau saya kurang setuju dengan ide untuk misalnya mengurangi subsidi BBM di Jakarta karena kurang tepat sasaran untuk mengurai kemacetan Jakarta.
Kami berharap perjalanan kami ke kantor - Jakarta semakin menyenangkan karena kami juga menginginkan tiba di kantor dengan kondisi yang prima demi menghasilkan produktifitas kerja yang tinggi. Kami mendoakan pak JoHok diberikan kesehatan untuk memimpin Jakarta dan bermimpi agar Jakarta semakin menyenangkan penduduknya, semoga.
(ay/free)
Halooo saya jg rumahny di beji depok kerja jg di pulomas, klo naik angkutan umum naik apa ya? Saya gatau dan ga bisa naik motor huhu jawab ya makasih sblmnya
BalasHapusHmmmm...kalo naik angkutan umum alternatif yang bisa diambil adalah jalur bus atau jalur kereta. Jalur bus, naik bus AC 84 jurusan Depok - Pulogadung lalu turun di Utan kayu. Nah, dari sana tinggal naik bus 43 deh jurusan Priok.
BalasHapusAtau bisa juga jalur kereta, naik kereta ke Jakarta dan turun di stasiun Cawang. Dari Cawang naik bus APTB yang ke Pulomas atau naik Busway aja menuju Pulomas. Kira-kira gitu deh....hehehehehe. Wei, ternyata ada tetangga rumah!